Asyki (Microtakaful Solution)

PT Asuransi Syariah Keluarga Indonesia didirikan oleh para penggiat dan praktisi Ekonomi dan Keuangan Mikro Syariah yang sejak awal memiliki kepedulian dan perhatian untuk membangun kemandirian dan mengembangkan kesejahteraan ekonomi masyarakat terutama keluarga dari kalangan ekonomi menengah ke bawah atau masyarakat berpenghasilan rendah (low income people) melalui Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) dan Asuransi Syariah.

PT Asuransi Syariah Keluarga Indonesia memiliki latar belakang bahwa manusia dalam kehidupannya tidak dapat terhindar dari musibah, namun sebagai makhluk sosial ketika terjadi musibah diwajibkan untuk tolong menolong dan membantu satu sama lain. Asuransi Syariah memiliki fungsi utama sebagai operator dalam berbagi risiko diantara para peserta atau pemegang polis apabila suatu musibah terjadi. Konsep Dasar Asuransi Syariah adalah tolong-menolonglah kamu sekalian dalam Kebaikan dan Taqwa. Prinsip ini menjadikan peserta asuransi sebagai sebuah keluarga besar yang satu dengan lainnya saling tolong dan bantu. Oleh karena itu PT Asuransi Syariah Keluarga Indonesia hadir menjadi bagian dalam berta’awun dan berbagi keberkahan bersama ummat.

PT Asuransi Syariah Keluarga Indonesia juga memiliki konsep dan filosofi Ta'awun dimana konsep Ta'awun dalam Al-Qur'an telah dijelaskan. Manusia sebagai makhluk individu sekaligus sebagai makhluk sosial merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Mereka harus menyadari bahwa kehidupannya baru memiliki makna atau arti, jika manusia terlibat dalam hubungan atau interaksi sosial yang didasai dengan sikap tolong menolong di antara komunitas masyarakat yang bersifat pluralistis atau majemuk. Dalam kata lain, tanpa orang lain atau hidup bermasyarakat, seseorang tidak berarti dan tidak berbuat apa-apa. Ketika manusia mempertahankan hidup dan mengejar kehidupan yang lebih baik, maka mustahil seseorang bekerja sendiri tanpa bantuan dan pertolongan orang lain. Olehnya itu, Islam menganjurkan kepada penganutnya agar memiliki sikap saling tolong menolong dan bantu membantu dalam menjalani kehidupannya.sikap ini akan berjalan dengan baik jika di antara mereka terjadi komunikasi atau memahami hal tersebut. Karena kepentingan manusia selalu berkaitan dengan manusia lainnya.

Dalam Alquran, Allah swt. telah memerintahkan kepada umat Islam agar selalu bersatu dan saling tolong menolong demi kokohnya dan kejayaan umat Islam. Jika hal ini terjadi, maka umat Islam akan beribawa, disenangi, dan dihormati oleh golongan lain yang berada di luar Islam.

Hal tersebut ditegaskan oleh Allah swt. dalam QS. al-Maidah (5): 2 yang berbunyi sebagai berikut:

‘Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa, dan janganlah kamu tolong menolonga dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah amat berat siksaannya’.

Dengan menyimat ayat di atas, maka dapat dipahami bahwa sikapxsaling tolong menolong yang bersikap kebaikan adalah suatu upaya meningkatkan ketakwaan kepada Allah Allah swt. sikap tersebut tidak hanya terdapat pada persoalan yang bersifat material, tetapi terdapat pula pada persoalan yang bersifat non-material. Misalnya, orang yang sedang mengalami kerisauan dan kesusahan. Dalam konteks ini, pertolongan yang dapat kita berikan adalah pertolongan yang bersifat non-material. Yang dimaksud di sisi adalah memberikan nasehat dan motivasi dalam rangka menghibur atau menggembirakan hatinya. Akibatnya, kerisauan dan kesusahann yang dialaminya akan berganti dengan kegembiraan.


Namun pada ayat itu, pertolongan yang dimaksud adalah pertolongan yang bersifat non-material. Dalam pandangan penulis, pertolongan yang dalam bentuk demikian, dapat diistilahkan dengan dakwah. Yakni pertolongan dengan mengajak manusia untuk melakukan kebaikan atau menurut istilah ayat tersebut adalah al-birr dan al-taqwa.

Berangkat dari ayat itu juga, maka dapat dikatakan bahwa pelaku atau orang yang dapat melakukan pertolongan tidak terbatas pada orang-orang tertentu, terutama pada pertolongan yang bersifat non-material. Kecuali pada pertolongan yang bersifat material, maka orang yang dapat melakukannya hanyalah orang yang memiliki materi. Misalnya, orang kaya membantu saudaranya yang miskin dan sebagainya.

Dalam konteks kehidupan masyarakat, (baca Indonesia) sikap ini telah menjadi budaya bangsa yang dikenal dengan istilah “gotong royong”. Budaya ini telah diperaktekkan secara turun temurun sejak nenek moyang bangsa Indonesia hingga generasi abad ini. Tetapi bentuk bantuannya berbeda-beda sesuai dengan kemampuan dan kondisi yang dihadapinya. Di kota misalnya, bantuan atau pertolongan yang diberikan lebih banyak bersifat materi. Sedangkan masyarakat pedesaan, bantuan atau pertolongan yang diberikan lebih banyak bersifat non-materi berupa tenaga atau semacamnya.

Oleh karena itu, kebiasaan seperti itu hendaknya dilestarikan terus menerus kapan dan di manapun kita berada. Hal ini sesuai dengan ajaran Islam yang selalu menganjurkan kepada pemeluknya agar saling tolong menolong dan bantu membantu, khususnya sesama umat Islam. Dengan demikian, akan terjadi persatuan dan kesatuan yang kokoh serta persaudaraan yang erat di antara umat manusia. Terutama Allah swt. akan menurunkan pertolongannya selama seorang hamba menolong saudaranya.

Hal ini ditegaskan oleh Nabi saw. dalam sabdanya sebagai berikut:

‘Dari Abi Hurairah bahwasanya Rasulullah saw., telah bersabda: “Allah swt. akan menolong seorang hamba selama hamba menolong saudaranya” (HR. Muslim).[16]

Menyimak hadis tersebut, maka dapat dikatakan seorang manusia haruslah menghiasi dirinya dengan sikap tolong menolong. Jika hal tersebut dimiliki setiap manusia, maka Allah swt. akan menolong dan melindungi serta bersamanya.

For More Information Visit Here!