MoU STEI Tazkia dan UGT Sidogiri : Dari beasiswa hingga implementasi desa binaan Tazkia

Implementasi Tri Dharma Perguruan adalah sebuah keniscayaan bagi insan akademisi, bukan hanya mengajar namun juga melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Jika pengajaran berkaitan dengan proses belajar-mengajar di kelas, maka penelitian dan pengabdian lebih kepada implementasi dan kontribusi kepada masyarakat. Ketiga tugas perguruan tinggi ini sama-sama penting sehingga haruslah dilakukan secara proporsional. Hal inilah yang menjadikan STEI Tazkia terus bergerak untuk meluaskan dakwah ekonomi Islam kepada seluruh lapisan masyarakat. Salah satu dari pergerakan tersebut adalah dengan menjali kerja sama dengan berbagai lapisan masyarakat, baik kalangan praktisi lembaga keuangan syariah atau masyarakat yang berkumpul dalam sebuah komunitas.


Pesantren adalah satu dari komunitas pendidikan tertua di Indonesia yang telah memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, bangsa dan agama. Melihat fakta ini maka STEI Tazkia kembali memperbaharui MOU dengan berbagai lembaga pesantren di seluruh Indonesia yang sudah sekian lama terjalin. Selasa, 24 Juli 2018, STEI Tazkia kembali mengukuhkan kerjasama dengan UGT Sidogiri, dalam hal ini Ikatan Alumni Santri Sidogiri (IASS). Penandatanganan Memorandum of Understanding (MOU) yang dilakukan di komplek Pondok Pesantren Sidogiri berisi kesepekatan untuk bersama-sama berta’aawun dalam kebaikan khususnya dalam memperjuangkan ekonomi Syariah. Secara lebih detail, kerjasama ini meliputi pemberian beasiswa kepada santri-santri berprestasi untuk bisa melanjutkan studinya di STEI Tazkia serta sinergi dalam pemebrdayaan masyarakat.


Bapak Mifatukhusurur selaku Wakil Ketua bidang Kerjasama dan Kemahasiswaa STEI Tazkia menjelaskan bahwa saat ini STEI Tazkia telah membuka Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah) dan Pendidikan Guru (Tadris) IPS dengan kekhususan Ekonomi Syariah. Prodi Muamalah fokus pada mencetak ahli fiqh dan hukum yang paham dengan dasar hukum serta metode istinbath al-ahkam fiqh muamalah serta paham peraturan perundang-undangan yang ada di Indonesia. Sementara Tadris IPS-Ekonomi Syariah menyiapkan para guru yang siap untuk mengajarkan ekonomi Islam kepada siswa di peringkat menengah dan atas.


Dr. Abdurrahman Misno BP, MEI selaku Ketua Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah) yang menghadiri MOU ini menjelaskan pula bahwa saat ini kebutuhan akan sarjana yang ahli dalam bidang fiqh muamalah sekaligus dalam bidang hukum positif adalah sesuatu yang harus dipenuhi. Banyaknya kasus sengketa muamalah haruslah bisa diselesaikan oleh mereka yang paham dengan kitab kuning serta hukum di Indonesia.


Dr. M melanjutkan bahwa prodi Muamalah adalah prodi yang sangat cocok bagi para alumni Pesantren Sidogiri karena dengan bekal penguasaan kitab kuning yang telah ada akan lebih mudah untuk belajar di STEI Tazkia khusus Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah). Selain itu didiskusikan juga mengenai penyelenggaraan Qaryah Thayyibah Sidogiri yang merupakan “Desa Binaan” sebagai bentuk kontribusi nyata PP Sidogiri melalui ikatan alumninya kepada masyarakat.


Bashori Alwie menjelaskan bahwa konsep Qaryah Thayyibah dilakukan dengan menempatkan seorang operator pada setiap desa untuk dapat membina dan menggali data mengenai kebutuhan masyarakat desa tersebut. “Konsep Iqra menjadi awal bagi program ini” ungkap Kyai kharismatik ini.


Beliau menjelaskan bahwa sudah saatnya masyarakat desa mendapatkan manfaat dari keberadaan pesantren, alumni serta insan akademisi lainnya. Metode “Iqra” yang kami kembangkan adalah dengan menginventarisir kebutuhan masyarakat, setelah ditemukan baru dicarikan solusi yang tepat guna. Dosen Pascasarjana Institut Agama Islam Darullughah Wadda’wah ini menyambut baik rencan STEI Tazkia membentuk Desa Binaan karena memiliki visi dan misi yang sama dengan konsep Qaryah Thayyibah. Semoga MOU ini menjadi media perjuangan dalam berta’awun dalam kebaikan dan ketakwaan. Aamiin. drm.


Comments (0)
Leave a Comment