Dec
20
2017
Blog image 1

DZIKIR NASIONAL SEBAGAI SPIRITUAL AWAKENING AND CULTURE IDENTITY

By Administrator | 0 Viewers

Dzikir Nasional di akhir tahun akan menjadi spiritual awakening dan culture identity artinya di zaman yang penuh hedonisme ini, dimana dalam beberapa waktu tertentu kita suka didominasi oleh budaya hedonis dan budaya kapitalis seperti valentine demikian juga budaya hura-hura yang mana budaya-budaya ini dapat menjauhkan kita dari Allah SWT. Dengan Dzikir diharapkan dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT dalam menjalani hari-hari dalam setahun. Sesungguhnya dzikir itu bukan hanya sekali setahun di penghujung tahun. Namun dzikir itu dilakukan setiap saat, setiap menit, setiap jam setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, setiap tahun, bahkan setiap detik. Namun, milestone-milestone ini ditandai oleh jeda harian, jeda mingguan, jeda bulanan, dan jeda tahunan. Jadi ketika kita menggelorakan Dzikir Nasional, milestone-milestone ini diharapkan dapat membangun kesadaran spiritual kita. Namun harus dimaknai juga bahwa dzikir itu ada empat. Pertama, Dzikir Lisani (dzikir secara lisan). Mengucapkan Subhanallah, Alhamdulillah Walaa Ilaaha Illallahu Wallahu Akbar. Itu dzikir yang paling rendah karena hanya melafadzkan. Dzikir baru akan nyambung jikalau di proses oleh akal kita, oleh pikiran kita, namanya Dzikir Fikri. Fikri ini menunjukkan betapa kebesaran Allah SWT saat melihat bintang-bintang, betapa keagungan Allah SWT saat melihat bulan, betapa kedahsyatan Allah SWT saat melihat gempa, gunung dan lain sebagainya. Hal itu termasuk pada tataran dzikir yang ketiga yaitu Dzikir Qalbi. Kita merasa kecil dihadapan Allah SWT, merasa kerdil dan merasa tidak ada apa-apanya. Kalau secara lisan, secara fikir, secara qalbu sudah mantap baru nanti turun ke tangan; tidak akan mengganggu orang lain, turun ke farji kita tidak akan berzina, turun ke mulut kita tidak akan membicarakan orang lain, turun ke telinga tidak akan mendengarkan omongan-omongan dan ghibah. Hal itu dinamakan spiritual awakening (Kesadaran Spiritual).

Culture identity. Karena setiap bangsa, setiap budaya, setiap masyarakat punya culture. Majusi punya culture-nya api, kristiani punya culture-nya lonceng, zionis atau yahudi punya culture-nya terompet. Bagaimana kita mengindari dari lonceng, api, dan dari terompet ini. Yang paling baik itu dengan gema takbir (Allahu Akbar), tasbih (Subhanallah), tahmid (Alhamdulillah), hauqalah (laa haula walaa quwwata illaa billah). Harapannya jika hal ini sudah digemakan, akan turun dari tataran personal kepada tataran komunal dan nanti insya Allah akan turun kepada tataran nasional serta global. Pada akhirnya hal itu dapat menjadi satu budaya. Jika ingin melihat orang islam, lihatlah bagaimana mereka celebrate atau merayakan bulannya, tahunnya, serta minggunya. Bagaimana detik demi menitnya itu pindah, Itulah Dzikir. Hal ini yang membedakan antara umat islam dengan umat-umat yang lain. Itulah yang menjadi culture identity umat islam. Secara inti dari saya pribadi, hal tersebut tidak perlu dilihat sebagai satu bid’ah, namun ini dilihat sebagai satu spriritual awakening dan sebagai satu culture identity. Dampak syiarnya dapat menurunkan hedonisme bahkan kriminalnya karena orang hura-hura. Dengan perayaan hedonisme tersebut orang yang membawa api dapat kebakar, orang yang arak-arakan dapat merusak pot, ada pohon yang tumbang, bahkan tidak tertutup kemungkinan dapat terjadi pencurian. Kalau ada wanita dapat terjadi pencopetan, jika seandainya party midnight and of the year party itu terjadi dapat menyebabkan hal negatif terjadi dalam banyak hal. Sehingga dari sisi tersebut ada justifikasi. Daripada kita melakukannya secara jahiliyah lebih baik dilakukannya secara nasional dengan sarana kegiatan yang bermanfaat. Ini dapat dilakukan secara pribadi halnya seseorang berdzikir diatas sejadah, mengajak keluarganya untuk tahajud bersama atau di mesjid untuk tadarus bersama, bahkan dapat dilakukan dalam event yang kolosal yang sifatnya mengundang pembicara dan lain sebagainya. Semoga bermanfaat 

Oleh: Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec. .